Ustadz Maulana Berkomentar Tentang Pemimpin Beda Agama

Ustadz Maulana Berkomentar Tentang Pemimpin Beda Agama

Ustadz Maulana – Pembawa acara Islam Itu Indah Ustadz Muhammad Nur Maulana mendapat kecaman dari tokoh agama dan netizen baru-baru ini. Pasalnya ‘ustadz selebriti’ itu mengeluarkan wejangan yang dianggap kontroversial, bahwa memilih pemimpin beda agama tidak perlu menjadi persoalan.

Jika anda menyimak video berikut ini sebenarnya kontroversi itu tidak jelas. Karena apa yang diutarakan oleh Ustadz Maulana tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kepemimpinan. Yang beliau tekankan adalah tidak pentingnya latar belakang agama dari seorang pemimpin, asalkan dia mempunyai integritas dan kapabilitas yang mumpuni untuk memimpin.

Demikian juga dalam memimpin negara -atau unsur-unsur negara- agama seseorang tidak penting. Yang terpenting adalah dia memiliki komitmen untuk memperbaiki taraf hidup orang banyak, tidak korup, tidak primordial, memperjuangkan nilai-nilai universal, dan lain sebagainya. Beliau bahkan menyebutkan bahwa membesar-besarkan agama seseorang, apalagi menjelekkan seseorang hanya karena agamanya berbeda dari agama kita adalah bentuk black campaign, kampanye negatif.

Efek Buruk Politisasi Agama

Ustadz Maulana mengatakan ini sebenarnya bukan hal baru lagi. Sebelumnya Gubernur DKI Basuki Tjajaya Purnama atau Ahok pernah melontarkan kritikan tajam kepada para pemimpin yang mencampurkan agama dan politik demi kepentingan pribadi. Bahkan Ahok dengan tegas mengatakan negara ini rusak karena orang mencampurkan agama dan politik. Ada pejabat yang akhlaknya baik, tapi munafik. Ke mana-mana mereka berbicara yang elok untuk menarik simpati orang.

Tetapi di balik itu semua mereka menyembunyikan kekurangan terbesar mereka, misalnya tidak transparan dalam melaporkan harta kekayaan. Bagi Ahok berbicara soal agama dan politik hanya menghabiskan energi. Karena itu dia memilih untuk terus menerus melakukan perbuatan baik bagi orang lain, tanpa pandang bulu.

Memilih pemimpin –presiden, gubernur, bupati, walikota- yang jelas tidak sama dengan memilih pemimpin agama. Satu hal yang jelas di negara yang hanya mengakui enam agama utama adalah bahwa seseorang harus berasal dari latar belakang agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu. Ini sesuai konstitusi. Jangan kita terjebak dalam pola pikir tokoh agama yang mempersempit kriteria kepemimpinan menjadi semata-mata urusan agama.

Identitas agama seorang pemimpin itu penting. Namun yang lebih penting adalah moral dan pengalaman kepemimpinannya yang sudah teruji membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Yang harus diperhitungkan adalah rekam jejaknya, seperti jujur (tidak korup), adil (tidak pandang bulu), cakap (punya kemampuan yang sudah teruji), serta memiliki keberanian untuk memihak kebenaran. Pada akhirnya, kepemimpinan seseorang akan diuji bukan oleh identitas agamanya melainkan tindakannya untuk mensejahterakan orang banyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!